Setelah hampir dua dekade sejak seri pertamanya rilis tahun 2006, sekuel game Action-RPG Titan Quest II sudah bisa kita mainkan. Digarap oleh Grimlore Games, studio asal Munich yang sukses menelurkan SpellForce 3 dan diterbitkan oleh THQ Nordic, game ini tersedia dalam tahap Early Access menggunakan kekuatan Unreal Engine 5. Sampai artikel review ini terbit, game ini masih dalam tahap yang sama.
Antusiasme gamer ternyata lumayan besar, dengan terjual menembus angka lebih dari 300.000 kopi hanya dalam 72 jam pertama. Game ini juga sempat menduduki peringkat kedua dalam daftar game terlaris di Steam dengan jumlah pemain aktif bersamaan (concurrent players) mencapai puncaknya di angka 27.099 pada masa peluncuran awal. Sebagai sekuel, game ini menawarkan alternatif petualangan yang segar dan taktis di tengah maraknya dominasi game live-service modern.
Melawan Takdir Nemesis
Dari segi cerita, Titan Quest II mengambil pendekatan yang lebih personal dan dramatis dibandingkan game pertamanya. Jika pada game pendahulu pemain memulai perjalanan sebagai pahlawan anonim tanpa latar belakang yang jelas, kali ini kita berperan sebagai anak terpilih yang dibesarkan di bawah bayang-bayang ramalan kuno.
Musuh utamanya adalah Nemesis, sang Dewi Retribusi. Nemesis dikisahkan bertindak di luar kendali dengan merusak Benang Takdir (Threads of Fate) milik para Moirai demi menghukum dewa-dewa Olimpus lainnya serta melenyapkan siapa pun yang berani menentangnya, termasuk kita. Kisah dimulai dengan hancurnya tempat latihan rahasia akibat serangan mendadak dari Nemesis, yang merenggut nyawa mentor. Dari sini, kita terpaksa melarikan diri untuk mencari kekuatan, merajut kembali benang takdir, mencari sekutu di antara dewa-dewa yang tersisa, dan menghentikan kerusakan takdir dunia.
Gameplay Dual-Mastery
Gameplay Titan Quest II menghidupkan kembali sistem Dual-Mastery. Pemain dapat memilih satu Mastery utama di awal permainan dan nantinya menggabungkannya dengan Mastery kedua untuk menciptakan kelas hybrid yang unik. Saya mencoba menciptakan karakter dengan Earth Mastery yang memanipulasi kekuatan api dan batu.
Kemudian Master kedua mengambil Forge yang terinspirasi dari dewa Hephaestus, berfokus pada kontrol taktis menggunakan perangkap mekanis, kemampuan menarik musuh, serta pemanggilan Automaton. Hasilnya adalah sebuah karakter yang bisa mengeluarkan serangan sihir api, bumi, dan di saat yang sama mampu memanggil Automaton yang dapat membantu membalikkan kondisi pertarungan.